Sunday, October 2, 2016

BANDAR LAMPUNG - TANGERANG : SINAR JAYA 66RA




Ingin mencoba bis pahala kencana palembang lighting blue hino rg yg katanya bis banter. Namun apa daya kelas executive harus ditukar dgn uang Rp. 200.000/seat. Akhirnya mengurungkan niat dan.meminta maaf pada agen pahala. Lanjut berjalan perlahan dengan mata autofokus mencari plang agen sinar jaya. Akhirnya ketemu agen Sinar Jaya kali balok sebelum hotel dan langsung menebus tiket seharga Rp. 150.000/seat.



Kumpul di agen Kalibalok, Bandar Lampung jam 19.30. Ternyata hny ada sy yg brangkat hari itu dr agen. Bis berangkat dr Bandar Jaya dan sampai di agen pukul 19.50 dalam suasana hujan gerimis sejak td sore. Musim kemarau basah atau anomali cuaca dimana musim kemarau yg selalu diguyur hujan. Bodi jetbus hd hino rk8 yang td siang jam 12.00 bertemu di dpn pool damri rajabasa dari arah jakarta dengan pengemudi yang sama. Di dalamnya sudah ada 8 penumpang yg duduk manis menikmati dinginnya udara AC thermo king yg terkenal berkualitas.

Tanpa kenek dan pengemudi cadangan, driver membantu membuka bagasi dan menyusun isi bagasi yang sudah lumayan padat. Hmm.. benar-bebar singel fighter di kerasnya jalur pinggiran lintas sumatera. Pedal gas diinjak perlahan namun pasti meliuk-meliuk melewati truk-truk yang berjalan perlahan. Terus berjalan dan ternyata sy penumpang terakhir yg naik bis dengan kode 66RA ini.

Dalam perjalanan hanya bertemu truk-truk ekspedisi sumatra dan beberapa mobil pribadi/trevel yang berlari kencang. Bertemu dengan bis Bekasi Raya yang juga berjalan santai akhirnya didahului dengan sopan. Hingga akhirnya didahului lagi ditanjakan Tarahan oleh Bekasi Raya. Tampaknya mesin rk8 kurang bertenaga di jalur tanjakan hingga dengan santai didahuli bekasi raya dengan of8000 nya. Turun tanjakan, kembali bekasi raya didahului dan memberikan klakson tellolet yang fenomenal di tahun 2016 ini.

Terus melaju diiringi lagu-lagu lawas dr mulai naik hingga mesin dimatikan di atas kapal. Mungkin.lagu tersebut teman satu-satunya bagi pengemudi untuk menghilangkan penat dan kantuk. Dari kejauhan tampak lampu LED terang benderang dengan bodi mulus Skyliner berwarna dominan putih dan hijau. Bis apakah itu?


Yap. ternyata sesosok Lorena bodi skyliner masih mulus berada di depan mata dengan sasis MB 1626 LV233 Bandung-Palembang. Bus yang terkenal pelari di masanya sekitaran 90an sampai awal tahun 2000 hingga kini masih lari walau tak sekencang zaman dahulu. Bus terus melaju di belakang LRN ikut bermain meliuk-liuk melintasi truk-truk di jalur yang sempit. Lorena menyalip, Sinar pun ikut di belakangnya walau jarak rapet. Dengan permainan sein yang apik Lorena memandu jalan Sinar dan memberikan isyarat agar kendaraan di jalur berlawanan mau mengerem atau sedikit ke kiri untuk memberi jalan. Yaa.. di jalan, yaa.. di kehidupan memang harus saling menghargai. Jika lagi ada yang on fire mendahulu, arah berlawanan harusnya legowo memberikan jalan.

Perjalanan dari mulai masuk Kalianda sampai RM. Siang Malam, Sinar dan LRN berjalan beriringan. Sempat juga Sinar ingin mendahuli, namun entah mengapa sudah berhasil didahului dan jalur depan kosong, LRN justru lebih ngegas dan Sinarpun mengalah. Ternyata tak jauh dari situ sudah persiapan belok kanan untuk masuk RM. Siang Malam tepat pukul 9 malam. Lumayan epet juga ini Kalibalok-Kalianda 1 jam perjalanan. Di sana sudah terpakir FRC bodi nucleus marco livery balapan yang ada umbrela girlsnya.

RM. Siang Malam yang terang, nyaman dan bersih dengan hidangan masakan Padang dan menjual oleh-oleh khas Lampung. Karena perut sudah fulltank jadi hanya mampir ke toilet dan mushola. Toilet bersih dan airnya juga banyak tapi tak ada penjaga mimbar yang biasanya ada di RM di Pulau Jawa. Hanya ada kotak kaca bertuliskan untuk uang kebersihan. Bagi orang yang berdana cekak ini sangat membantu mengerem pengeluaran sedangkan bagi yang dermawan dan tau diri pasti tetap akan memasukkan uang ke kotak tersebut. Berhenti cukup lama di sana, sekitaran 30 menit. Masuk Damri bodi setra lawas eks Blue Star 1525, MKU, dan Putri Candi 3/4. Ada juga Damri Royal Class yang masuk RM namun hanya numpang liwat karena tidak parkir.

Saatnya angkat jangkar, ternyata LRN sudah jalan duluan. Jalan santai saja menuju Bakauheni dengan cuaca masih gerimis. Di perjalan sekarang ditemani oleh FRC yang tadi ada di RM. Kalau ini jalannya santai tak seperti LRN yang gesit tadi. Perlahan-lahan melaju melewati jalanan yang bergelombang, banyak lubang, dan kontur perbukitan Bukit Barisan. Dari arah berlawan banyak bis-bis dari arah Pulau Jawa menuju Lintas Sumatra. Terus mengekor FRC sampai masuk Bakauheni jam10 malam dengan suasana yang sepi.

Bus lansung menuju loket pembayaran jasa penyebrangan. Ntah tarifnya berapa, di papan tarif LED hanya ada tarif mobil/bis/truk ukuran 5-7meter Rp. 700.000,-. Lah.. kemarin di Merak naik bis 3/4 dikenakan biaya Rp. 800.000,- ketika cek di atas ternyata yang tertera Rp. 700.000,-, di Merak ada semacam calo atau freeman apa ya yang berdiri di loket dan menanyakan kawalanan darimana? Hmm.. sulitnya mencari uang.

Di parkiran Bakuheni sudah ada Transport Exprees 2 unit yang tadi di Kalibalok lewat sekitar jam 7.30 malam dan disusul dua unit Bekasi Raya 3/4 bodi eks 99 TransJaya Jogja. Pengemudi turun memberikan secarik kertas kepada orang yang sudah menunggu di emperan warung-warung. Cukup lama menunggu kapal idaman yang akan membawa kami ke Merak. Untuk malam hari kapal penyebrangan memang lebih sedikit daripada siang hari untuk efisiensi operasional. Tepat pukul 23 malam barulah kami masuk ke dalam kapal. Kapalnya lumayan ramai dimasuki banyak bis-bis, ada Ramayana Ventura Anugrah, Putri Candi bigbus eks tami jaya, Transport express, dan Bekasi Raya. Beda dengan menyebrang di siang hari yang sepi senyap di atas kapal, kali ini harus berdesakn dengan ratusan penumpang lainnya meskipun di kelas eksekutif dengan tambahan biayan Rp. 12.000/penumpang. Karena ruangan berpendingin udara, akhirnya tidur adalah kegiatan yang paling tepat.

Pukul 2 dini hari petugas kapal membangunkan penumpang yang masih terlelap tidur. "Persiapan-persiapan" kata petugas sambil mencolek penumpang laki-laki yang terlelap tidur. Turun kapal, Sinar langsung melaju menuju Jakarta tanpa berhenti lagi. Di jalan tol jakarta-Merak hanya ada beberapa truk dan mobil pribadi. Terus saja ambil jalur kanan, beberapa kali harus mengerem dan mengurangi kecepatan karena ada truk yang mendahuli. Pukul 3.30 sekitaran tikungan Ciujung jalanan padat. Terdengar klakson khas Hino berbunyi beberapa kali, dari kiri tampak Murni Jaya (Hiba) berbodi 3UNBUS bermain dengan Murni Putih berbodi 3UNBUS juga melaju dengan cepat. Langsung hilang tak terlihat lagi kedua pelari Labuan tersebut. Penumpang pertama turun di Bitung, bis pun keluar toll untuk menurunkan penumpang dan pengemudi membeli kopi untuk menemani perjalanannya. Di Bitung sudah banyak bis dari Jawa semacam Garuda Mas yang menurunkan penumpang. Masuk toll lagi dan exit di Kebon Nanas arah Tangerang melewati Jalan Daan Mogot. Akhirnya, turun di Ampera pukul 4 pagi. Alhamdulillah siap memulai hidup baru.


No comments:

Post a Comment