Thursday, January 14, 2016

X SMA GEOGRAFI : PEMBENTUKAN TANAH DAN PEMANFAATANNYA

X SMA GEOGRAFI


PEMBENTUKAN TANAH DAN PEMANFAATANNYA


1.       Pedosfer adalah lapisan tempat pembentukan tanah

2.       Tanah (soil) terbentuk dari campuran hasil pelapukan batuan, bahan anorganik, dan bahan organik, air, dan udara

3.       Faktor yang mempengaruhi proses terbentuknya tanah dan perkembangan tanah:
a.        Bahan induk: batuan beku, sedimen, metamorf, bahan organik (sifat fisika dan kimia)
b.       Iklim: curah hujan, suhu, kelembapan
c.        Organisme: tumbuhan, hewa, mikroorganisme
d.       Relief: kecuraman lereng
e.       Waktu: tingkat perkembangan (muda, dewasa, tua) dan umur (dalam tahun)

4.       Proses pembentukan tanah:
a.        Batuan dasar mulai pecah karena pengaruh iklim
b.       Material organik mempercepat pemecahan batuan
c.        Pemecahan material organik dan mineral mulai membentuk horison tanah
d.       Horison tanah terbentuk dan tumbuhan muncul

5.       Profil tanah:
https://noviaanggra.files.wordpress.com/2012/05/horizon.jpg
a.        Horison O : humus, paling subur
b.       Horison A : top soil
c.        Horison E : eluvasi (hasil pencucian)
d.       Horison B : sub soil
e.       Horison C : regolith
f.         Horison R : bedrock

6.       Lapisan tanah atas (top soil)
a.        Horison tanah O tersusun dari sisa-sisa tanaman dan bahan organik tanah hasil dekomposisi
b.       Horison tanah A tersusun dari bahan mineral yang mengandung bahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap

7.       Lapisan tanah bawah (sub soil)
a.        Lapisan eluvasi: horison yang telah mengalami proses pencucian yang sangat intensif sehingga kadar organik liat, silika, Fe, dan Al rendah tetapi kadar pasir, debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi sehingga berwarna agak terang
b.       Horison B : lapisan illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horison di atasnya

8.       Horison C : lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan batuan induk

9.       Horison R : lapisan yang masih berupa batuan

10.   Komposisi penyusun tanah yang subur:
a.        Padatan bahan mineral : 45%
b.       Air : 25%
c.        Udara : 25%
d.       Bahan organik : 5%
                             i.      Humus : 80%
                            ii.      Organisme : 10%
                          iii.      Akar : 10%

11.   Sifat-sifat tanah:

a.       Sifat fisik tanah

              i.      Warna tanah: digunakan untuk menjejaki sifat lain dari tanah yang penting.  Misalnya warna hitam  dilapisan atas. Umumnya kandungan bahan organiknya tinggi. Warna merah menunjukan tanah relative kaya akan besi, warna biru atau kelabu menunjukkan drainase yang jelek.

              ii.      Tekstur tanah: komposisi partikel penyusun tanah (separate) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relative antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00 – 0,20 mm atau 2000 – 200 µm, debu (silt) (berdiameter 0,20 – 0,002 mm atau 200 – 2 µm) dan liat (clay) ( <2 µm).

                          iii.      Struktur tanah: kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir, debu dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer yang disebut ped (gumpalan) yang membentuk agregat (bongkah).

              iv.      Konsistensi tanah: daya kohesi dan adhesi diantara partikel-partikel tanah dan ketahanan (resistensi) massa tanah tersebut terhadap perubahan bentuk oleh tekanan atau berbagai kekuatan yang dapat mempengaruhi.

               v.      Bobot isi tanah dan bobot jenis: kerapatan tanah per satuan volume yang dinyatakan dalam dua batasan berikut ini:
1.       Kerapatan partikel (bobot partikel = BP): bobot massa partikel padat per satuan volume tanah.
2.       Kerapatan massa (bobot isi = BI) : bobot massa tanah kondisi lapangan yang dikering-ovenkan per satuan volume. 

              vi.      Kedalaman efektif tanah: kedalaman lapisan tanah yang dapat ditembus oleh perakaran tanaman.

              vii.      Drainase: lamanya kondisi tergenang / jenuh air, bukan merupakan ukuran berapa cepat air terbuang dari tanah air dapat hilang melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan ke dalam tanah. 

              viii.      Permeabilitas tanah: proporsi ruang pori tanah (ruang kosong) yang terdapat dalam suatu volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara , sehingga merupakan indicator kondisi drainase dan aerasi tanah.

              ix.      Potensi mengembang dan mengerut: masuk atau keluarnya air ke atau dari antara lempeng-lempeng liat kristal yang dipengaruhi oleh kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat.

              x.      Indeks pengembangan tanah: penjenuhan air sehingga menutupi celah-celah retakan tanah yang diakibatkan oleh pengerutan.

              xi.      Kematangan tanah: nilai untuk menunjukkan tingkat kematangan tanah. Tanah yang belum matang adalah tanah-tanah yang seperti lumpur cair sehingga bila tanah diremas akan mudah sekali keluar dari genggaman melalui sela-sela jari.

b.       Sifat kimia tanah

              i.      Derajat keasaman tanah: menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen. Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH kurang dari 7 disebut asam dan pH lebih dari 7 disebut basa/alkali.

              ii.      C-organik: kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-organik. Jumlah C-organik dalam tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen.

              iii.      N-total: unsur hara makroesensial yang berasal dari bahan organik, pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara, pupuk, dan air hujan.

              iv.      Unsur lainnya: unsur fosfor (P), kalium (K), natrium (Na), Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg).

c.        Sifat biologi tanah
                    i.      Total mikroorganisme tanah
                    ii.      Jumlah fungi tanah (ragi, kapang, jamur)
                    iii.      Jumlah bakteri pelarut fosfat
                    iv.      Total respirasi tanah

12.   Jenis-jenis tanah dan persebarannya:
a.        Podzolit: pelapukan batuan yang mengandung kuarsa. Tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

b.       Organosol: bahan induk organik seperti gambut dan rumput rawa. Tersebar di pasang surut timur Sumatra dan pantai Kalimantan bagian barat.

c.        Aluvial: endapan lumpur sungai. Tersebar di Sumatra bagian timur, Jawa bagian utara, dan Kalimantan bagian utara.

d.       Kapur: pelapukan batuan kapur. Tersebar di pegunungan Kendung, Blora, dan pegunungan Sewu.

e.       Vulkanik (andosae): pelapukan batuan-batuan vulkanis. Tersebar di Jawa, Sumatra, Bali, dan wilayah yang memiliki gunung api.

f.         Pasir: batuan pasir yang telah lapuk. Tersebar di pantai barat Sumatra Barat, Jawa Timur, Sulawesi, dan Jogjakarta.

g.        Humus: tumbuh-tumbuhan yg telah membusuk. Tersebar di kawasan hutan Indonesia.

h.       Laterit: mengandung zat besi dan almunium. Tersebar di Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, dan Pacitan.

13.    Kerusakan tanah disebabkan pemanfaatan lingkungan yang tidak terkontrol yang berdampak langsung pada berkurangnya lahan subur.

14.   Kerusakan tanah dapat disebabkan oleh:
a.        Perusakan hutan sehingga dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menampung dan menahan air, sehingga tanah mudah tererosi
b.       Proses kimiawi air hujan
c.        Proses mekanis air hujan yang dapat mengikis dan menggores permukaan tanah
d.       Aktivitas manusia

15.   Manfaat tanah bagi kehidupan manusia:
a.        Tempat tinggal dan melakukan kegiatan
b.       Tempat tumbuhnya vegetasi
c.        Tempat ditemukannya bahan tambang
d.       Tempat berkembangnya hewan


16.    Sumber: Hermanto, Gatot. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X (Peminatan). Bandung: Yrama Widya.


1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete