Wednesday, April 2, 2014

CERITANYA CAPER: TZ 19 GOES TO KOPDAR SIS SEMARANG

Trans Zentrum Bus MK TZ 19
P6 Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan

Hari Jumat 27 Maret 2014 saya sudah mengosongkan jadwal untuk pergi ke Semarang menghadiri kopdar penggemar miniatur bis ‘small is sexy’. Sejak dua minggu sebelum keberangkatan sempat galau untuk mengaspal Tangerang-Semarang atau menaiki bis. Akhirnya setelah galau selama beberapa hari mengingat jalan pantura yang terus-terusan rusak dan tidak bersahabat akhirnya saya putuskan untuk naik bis. Untuk rekan-rekan SIS sudah anteng dengan memegan tiket rombongan Laju Prima LP 50 New Marcopolo Rk-8 yang pada mulanya juga sempat galau dengan bis Bejeu – Sindoro Satriamas – dan akhirnya menggunakan LP 50. Karena solar sedang dijatah saya menghitung-hitung biaya tiket yang paling ‘hemat’ tapi dengan armada AC.

Setelah galau dan browsing untuk memilih armada yang hemat dan pemberangkatan sore hari antara Garuda Mas, Damri, Bayu Megah, atau Tri Mulia akhirnya pilihan jatuh ke armada yang ada petanya. Yap.. perusahaan otobus yang pertama kali merintis bis trayek pariwisata asal Purwodadi, Jawa Tengah dengan armada terbaru dan bodi-bodi terbaru dipadu livery yang sedap dipandang mata. Pilihan tersebut adalah Trans Zentrum Bus yang sekarang sudah di bawah managemen Madu Kismo (MK) sejak akhir 2013. Langsung saja menuju Terminal Kalideres dengan menggunkan sepeda ontel untuk membeli tiket dan sekedar foto-foto bis yang ada di terminal. Langsung menuju agen tiket TZ tanpa ditanya-tanya calo karena penampilan saya tidak meyakinkan. Saya berdiri di depan agen TZ, ternyata di dalamnya tidak ada petugas tiketing. Kemudia datanglah sesosok pria muda berbadan agak tambun dengan kemeja Trans Zentrum Bus yang ada globe Asia Tenggaranya dan sepertinya saya pernah bertemu dengan pria muda ini di Terminal Lembang Ciledug tempo hari waktu penelitian skripsi. Langsung saja saya ditanya “mau kemana dan kelas apa?” Saya jawab “Semarang dua kursi kelasnya ada apa ja?”. “Ada Ac Ekonomi dan Bisnis AC”. Wah ya... sudah saya langsung tunjuk kelas Ac Ekonomi saja yang dari denahnya itu menggunakan armada kursi 2-3, pintu tengah dan toilet tengah. Maklum, biasa pulang ke Magelang – Jogja tidak ada kelas AC Ekonomi plus toilet. Saya langsung memilih kursi terdepan nomor 1 dan 2, petugas tiketing langsung menelpon agen lainnya karena jatah hotseat bukan milik agen Kalideres. Akhirnya disetujui dan langsung tulis tiket dengan mahar 180 ribu untuk dua orang. Wah... murah juga ini 90 ribu bisa sampai Semarang - Purwodadi dengan fasilitas AC Ekonomi dan toilet. Apabila digunakan untuk bis Jogjaan paling dapat kelas Bisnis Non-AC.

Loket Trans Zentrum Bus di Terminal Kalideres


Jumat, 28 Maret 2014 saya tiba di Terminal Kalideres pukul 15.00. Sampai terminal karena bawa kardus dan tas ransel langsung sja ditanya-tanya sama calo. Ada calo dari KD menanyakan tujuan saya dan saya jawab Semarang sudah beli tiket. Dia tidak percaya, dan meminta saya untuk menunjukkan tiketnya. Nih.. tiketnya TZ. Masih aja ngeyel untuk pemberangkatan tanggal berapa itu. Gila ini calo, nyari duit samapi seperti itu. Suasana  di terminal ternyata sudah ramai dengan para penumpang yang akan ke luar kota karena memang sedang long week end. Di terminal terparkir armada HR Parako JB, HR 36 Marco, Shantika Ungu Marco, Dieng Indah JETBUS Tugas Anda, dan masih banyak lagi yang nantinya akan meramaikan jalur pantura. Jika dilihat dari kondisi parkiran bis AKAP, tampaknya terminal ini sudah over load sampai-sampai armada yang datang untuk menjemput penumpang tertahan lebih 30 menit untuk angkat jangkar dari terminal.  Ya... menurut rencana sejak tahun 2000-an konon kabarnya Terminal Kalideres akan dipindah ke Terminal Rawa Buaya. Tetapi sampai saat ini belum pindah-pindah bahkan saran dan prasarana di Terminal Rawa Buaya juga masih kurang untuk dijadikan terminal tipe A. Setelah menunggu beberapa menit, sya ditelpon petugas tiketing untuk ke depan loket, ternyata ada penambahan biaya dari 90 ribu menjadi 100 ribu. Langsung saja tidak banyak tanya saya berikan tambahannya, tiket langsung di ceklis dan diberikan nomor armada TZ 19. Ternyata kedepannya saya tahu, alasannya karena sejak di toll dalam kota saja sudah macet dan ditambah jalur pantura Jawa Barat yang padat merayap akan menguras tenaga pengemudi, kru, dan armada yang digunakan. Karena bis tidak bisa masuk ke depan loket, kru mendatangi loket untuk meminta petugas tiket agar penumpang langsung menuju ke bis yang masih mengantre masuk jalur bis AKAP. Kesan pertama yang saya rasakan dengan armada TZ 19 adalah interior yang terawat, dengkul mefet, gang sempit  dan bodi yang mulai kusam tidak terawat. Berbalut bodi Jet Bus Adiputro bermesin Hino Rk-8 cukup bagus dengan livery hijau peta  Asia Tenggara di bagian belakang hingga menutupi kaca belakang.

Macetnya toll dalam kota dari Jelambar hingga Cawang 3 jam
Kemana peran pemerintah (SBY - Jokowi)?


Sekitar pukul 16.00 dengan santai bis melaju dengan santai menyisir Jalan daan Mogot hingga msuk Toll JOOR I Bakri untuk menjemput penumpang di Kayu Besar, Kapuk. Bis melaju dengan kencang menyisir jalan toll yang lengangan hingga keluar di Kayu Besar. Ternyata di agen sudah berbaris TZ MK60 JB biru dan TZ MK 19 Scorpion X. Lama menunggu di agen karena ada penumpang yang belum datang. Supir dan penumpang sudah kesal hingga supir sedikit marah dengan sesekali naik turun bis ke depan agen dan menjalankan sedikit demi sedikit bisnya. Akhirnya dengan terpaksa supir meninggalkan penumpang tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Purwodadi melawati toll Bandara. Pukul 17.15 ternyata toll bandara di GT Pluit macet tidak terkira, kru mendapat informasi bahwa Tj. Priok macet total dan menyarankan untuk melewati toll dalam kota. Akhirnya terlepas dari kemacetan di Pluit bis melaju kencang hingga akhirnya terjebak macet lagi dari Jelambar hingga Cawang. Dalam kemacetan ikut bermacet-macetan rombongan Hiba Utama AC bis antar-jemput karyawan Garuda Indonesia. Beberapa kali lewat patwal dengan sirine dan kesan arogannya menyodok bahu jalan untuk meminta jalan. Mungkin orang-orang penting dan berduit di dalam rombingan tersebut dengan salah satu mobilnya Rolls Royce yang berharga miliaran rupiah terebut. Benar-benar menyiksa pengemudi dan penumpang kemacetan di dalam toll dalam kota ini hingga akhirnya Jelambar – Cawang ditempuh dalam waktu tiga jam. Masuk jalan tool Cawang – Cikampek engemudi membejek gas armadanya meliut-liut dikepadatan jalan toll. Sempat adau posisi dengan Budiman JB 3E-53 yang terlihat jalan kencang namun terhalang dengan kendaraan di depannya dan mengikuti Parahiyangan Comfort yang juga terburu-buru untuk keluar toll Cikarang Barat. Untuk jalan toll Cikampek padat cenderung lancar hingga akhirnya keluar toll Dawuan pukul 23.00.

Keluar toll Dawuan langsung bertemu dengan Antar Jaya, TZ MK 19, dan Sahabat Balola Netral yang tadi bertemu di Slipi yang dengan sedikit perlawan bisa diover take. Jalan Pantura dari Sukamandi hingga Pamanukan pun tidak kalah padat merayapnya, dikarenakan jalan rusak dan ada buka tutup jalan akibat perbaikan. TZ 19 menjadi pelopor buka jalur hingga kemudian masuk ke jalan yang benar. Ternyata kemacetan masih menghadang di depan mata dan terlihat beberapa armada Cirebonan dan Pekalongan plus TZ 60 buka jalur, akhirnya TZ 19 ikut buka jalur kembali. Saat buka jalur banyak penduduk lokal bergerombol di sekitar leter U dan tengah-tengah jalan seperti minta jatah. Benar saja dari mulai yang berbatan kurus hingga yang berbadan tegap, mengulurkan tangnnya meminta uang kepada pengemudi. Haduh... mereka tidak tau kali apa ya, mencari uang itu sulit apalagi untuk pengemudi yang telah berjam-jam bermacet-macetan ini. Tidak lama bertemu dengan Hr 93 New Tato arah Jakarta yang dengan ramah mengasih dim dan klakson untuk saling menyapa karena memang sama-sama angkatan Poris. Akhirnya bis mengambil jalur kiri dan sein kiri untuk masuk SPBU yang sudah banyak bis-bis AKAP sedang isi solar. Tercatat ada Sumber Harapan SR-1, Putra Mulya, dan lainnya lupa. Tidak jauh SPBU bis perlahan jalan dan akhirnya sein kanan untuk masuk ke Rumah Makan (lupa namanya) untuk Ishoma. Jam menunjukkan pukul 01.00 untuk Ishoma di Pamanukan.Di RM tersebut sudah ada Purwo Putro pemain lawas dari Wonogiri dengan bodi Great Panorama dan mesin MB lawasnya sudah bersiap untuk angkat jangkar. Saya memilih untuk makan soto saja yang seporsi dihargai 15 ribu dan membei Aguaria 600 ml seharga 5 ribu rupiah.

Purwo Putro


Melanjutkan perjalannan dengan penuh semangat sang pengemudi yang ternyata ‘engkel’ melaju dengan cepat di jalur pantura. Tercatat tiga kali menghajar lobang pantura hingga berasa sekali di dalam kabin penumpang. Yap... karena suspensinya masih menggunakan per daun jadi terkesan keras dan berbunyi engkrik-engkrik. Tampaknya tidak ada yang menyalip armada TZ 19 ini karena memang jalur pantura sudah di tinggalkan oleh pejuang pantura lainnya yang lebih dahulu lewat atau melewati Subang. Di Pantura bertemu dengan Shantika ungu dan Hr yang tadi ada di terminal Kalideres yang semuanya dapat dibalap kembali. Masuk Brebes matahari sudah menunjukkan sinarnya, tanpa dihadang kemacetan karena sedang hari Sabtu bis melaju kencang tanpa kendala. Sesekali sang pengemudi menyapa dan bertegur sapa dengan pengemudi bis Cirebon-Tegal-Semarang seperti Coyo dan Adi Jaya. 

Akhirnya bis sein kiri lagi pukul 08.00 di Batang sebelum Alas Roban, di sana sudah terparkir Tz 69 dan Garuda Mas non Ac. Tetapi karena nasi habis bis kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari rumah makan selanjutnya. Penumpang sempat curhat dengan sesama penumpanglainnya yang bercerita pernah singgah di sini anaik Tz juga dan makan di warteg dengan mahar 30 ribu. Sekitar 30 menit perjalanan TZ 19 sein kiri lagi untuk masuk rumah makan yang sudah terparkir Damri Sr-1 dan beberapa mobil travel. Tidak lama kemudian datan Raya new legacy Sr-1 yang tadi sempat dibalap di pekalongan juga masuk rumah makan. Lanjutkan perjalanan dengan santai karena jalan pantura Jawa Tengah dari Batang sampai Semarang juga tampak sedikit berlobang meskipun lancar. Sempat masuk ke RM. Sari Rasa untuk cekker penumpang ke perwakilan TZ. Pukul 10.00 bis terkena macet kembali dari Kecamatan Tugu sepertinya hingga pertigaan toll Krapyak. Dan saya pun turun di sebrang rumah makan so tasty Nusantara.

Kopdar SIS So Tasty Semarang

Sore hari acara kopdar SIS telah selesai, sya pun ingin melanjutkan perjalanan ke Magelang. Sempat pertanya-tanya kepada penduduk lokal Semarang naik apa jika ingin ke Magelang. Ternyata jika sore hari sudah tidak ada lagi Patas Semarang – Jogja. Akhirnya saya menunggu bis arah Solo bersama Adi Kurdi (sebelumya belum kenal) dan diberi saran untuk naik Patas Rajawali (white Bus Nucleus) hingga Terminal Bawen dengan tarif 13 ribu. Perjalanan lancar hingga keluar toll Sukkun dan mulai terjebak macet dari Sukkun higga Bawen. Arah semarang pun tidak jauh berbeda macetnya, terlihat beberapa armada HR Team Solo, Soloensis, TulungAgung, Klaten, dan Wonogiri perlahan-lahan melaju menuju Jakarta. Pukukl 10.00 malam akhirnya saya tiba di Terminal Bawen. Melanjutkan perjalanan ke Magelang naik Tri Sakti berbalut bodi Concerto lawas dan mesin MB lawas juga melaju menuju magelang dengan kondisi jalan yang mulus dan lancar. Dengan tarip 10 ribu kondektor menyatakan bahwa bis tidak sampai Jogja dan hanya sampai Magelang. Yap.. untuk bis-bis yang pasti samapai Jogaja ada pilihan bis Patas Nusantara dan Ramayana sedangkan yang ekonomi ada Sumber Waras, Ramayana, Tri Sakti A (Santoso), Maju Lancar, Trisulatama, dan Ikha Jaya. Akhirnya dengan terpaksa semua penumpang tujuan Jogja diturunkan di Terminal Magelang tidak dihiraukan bahwa tidak ada angkutan lain menuju Jogja selain ojek dan taxsi avanza. Akhirnya saya dan beberapa orang lainnya dipandu oleh calo taksi membayar 30 ribu untuk sampai Krakitan (Ponpes Al Husein) dan 40 ribu untuk sampai Jogja. Akhirnya sampai rumah si Mbah pukul 12.30 setelah uji nyala jalan kali melewati sungai. Pulang ke Jakarta lagi naik Ramayana seri bravo seharga 150 ribu dan jadi bobo mania saja karena kenyamanannya serta harus kembali macul esok harinyaa. Macet di pantura Jawa Barat sampai Toll Dalam Kota hingga sampai Terminal Poris pukul 11.00. Selamat siang Tangerang.


Semoga bermanfaat dan menarik untuk dibaca.

No comments:

Post a Comment