Friday, November 8, 2013

Perjuangan Diplomasi Indonesia untuk Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia


1. Pertemuan Soekarno-Van Mook

tempat: Jakarta, 25 Oktober 1945..
diprakarsai: Panglima AFNEI Letnan Jenderal Sir Philip Christison
wakil Indonesia: Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Sobardjo, dan H. Agus Salim.
wakil Belanda: Van Mook dan Van Der Plas.
tujuan: rakyat Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan Belanda ingin menjalankan negara Indonesia federal yang memiliki pemerintah copi paste sendiri di lingkungan kerajaan Belanda.
hasil: Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

2. Pertemuan Sjahrir-Van Mook

tempat: Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta ( Jalan Imam Bonjol No.1), 17 November 1945.
wakil Sekutu: Letnan Jenderal Christison.
wakil Belanda: Dr. H.J. Van Mook.
wakil Indonesia: Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
tujuan: mempertemukan pihak Indonesia dan Belanda di samping menjelaskan maksud kedatangan tentara Sekutu.
hasil: tidak ada copi paste.

3. Perundingan Sjahrir - Van Mook - Clark Kerr

tempat: Jakarta, 10 Februari - 27 Maret 1946.
wakil Sekutu (penengah): Sir Archibald Clark Kerr
wakil Belanda: Dr. H.J. Van Mook.
wakil Indonesia: Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
usul Belanda 10 Februari 1946:

  • Indonesia menjadi negara Commonwealth berbentuk federasi di dalam lingkungan kerajaan Belanda.
  • Urusan dalam negeri dijalankan Indonesia sedangkan urusan luar negeri oleh pemerintah Belanda.

usul Indonesia 12 Maret 1946:

  • Republik Indonesia harus diakui sebagai copi paste negara yang berdaulat penuh atas wilayah bekas Hindia Belanda.
  • Federasi Indonesia-Belanda akan dilaksanakan pada masa tertentu dan urusan luar negeri dan pertahanan diserahkan kepada suatu badan federasi yang terdiri atas orang-orang Indonesia dan Belanda.

usul baru Indonesia 27 Maret 1946:

  • Belanda harus mengakui kedaulatan de facto Rl atas Jawa dan Sumatera.
  • RI dan Belanda bekerja sama membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
  • RIS bersama Nederland, Suriname, Curacao, menjadi peserta copi paste dalam ikatan negara Belanda.

hasil: Usul dari pihak Indonesia tidak diterima oleh pihak Belanda dan Van Mook secara pribadi mengusulkan untuk mengakui Republik Indonesia sebagai wakil Jawa untuk mengadakan kerja sama dalam rangka pembentukan negara federal dalam lingkungan Kerajaan Belanda.

4. Perundingan di Hooge Veluwe

tempat: Hooge Veluwe, Belanda 14 - 25 April 1946.
wakil Indonesia: Mr. Suwandi, dr. Sudarsono, dan Mr. A.K. Pringgodigdo.
wakil Belanda: Dr. Van Mook, Prof. Logemann, Dr. Idenburgh, Dr. Van Royen, Prof. Van Asbeck, Sultan Hamid II, dan Surio Santosa copi paste.
wakil Sekutu (penengah): Sir Archibald Clark Kerr.
hasil: Pihak Belanda tidak bersedia memberikan pengakuan de facto kedaulatan RI atas Jawa dan Sumatra tetapi hanya Jawa dan Madura serta dikurangi daerah-daerah yang diduduki oleh Pasukan Sekutu.

5. Perundingan Linggajati

tempat: Linggajati, sebelah selatan Cirebon, 10 November 1946.
wakil Indonesia: Perdana Menteri Sjahrir, dengan anggota Mr. Moh. Roem, Mr. Amir Sjarifoeddin, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A.K. Gani, dan Mr. Ali Boediardjo.
wakil Belanda: Prof.Scermerhorn, dengan copi paste anggotanya Max Van Poll, F. de Baer dan H.J. Van Mook.
wakil sekutu: Lord Killearn, komisaris istimewa Inggris untuk Asia Tenggara.
hasil:  ditandatangani tanggal 25 Maret 1947 di Istana Rijswijk (sekarang Istana Merdeka) Jakarta.
isi:

  • Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Belanda harus sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
  • Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat copi paste,
  • dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
  • Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.


6. Perundingan Renville

penyebab: Agresi Militer I Belanda 21 Juli 1947.
atas prakarsa: Komisi Tiga Negara (KTN).
Anggota KTN: Belgia wakil Belanda, Australia wakil Indonesia, USA wakil sekutu.
tempat: kapal perang USS Renville di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
tanggal: 8 Desember 1947 - 17 Januari 1948
wakil Indonesia: Mr. Amir Syarifuddin,
wakil Belanda: R. Abdulkadir Widjojoatmodjo, seorang Indonesia yang memihak Belanda.
Hasil: 

  • Pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda sampai pada waktu yang ditentukan copi paste.
  • ditetapkan oleh Kerajaan Belanda untuk mengakui Negara Indonesia Serikat (NIS).
  • Akan diadakan pemungutan suara untuk menentukan apakah berbagai penduduk di daerah-daerah Jawa, Madura, dan Sumatera menginginkan daerahnya bergabung dengan RI atau negara bagian lain dari Negara Indonesia Serikat.
  • Tiap negara (bagian) berhak tinggal di luar NIS atau menyelenggarakan hubungan khusus dengan NIS atau dengan Nederland.

akibat: wilayah Republik Indonesia yang meliputi Jawa, Madura, dan Sumatera menjadi lebih sempit lagi karena dikurangi daerah Medan, Palembang, Bandung, dan Surabaya (garis Van Mook).

7. Persetujuan Roem-Royen

penyebab: tanggal 18 Desember 1948 Dr. Beel mengumumkan tidak terikat dengan Perundingan Renville dan melakukan agresi militer II Belanda 19 Desember 1948 pada pukul 06.00 pagi dengan menyerang ibu kota Rl yang berkedudukan di Yogyakarta. 
Komisi Tiga Negara (KTN) diubah namanya menjadi Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Indonesia (United Nations Commission for Indonesian atau UNCI).
tugas UNCI: membantu melancarkan perundingan-perundingan antara Indonesia dengan Belanda.
tempat: Hotel des Indes Jakarta, 7 Mei 1949.
wakil Indonesia: Mr. Moh. Roem.
wakil Belanda: Dr. Van Royen.
hasil:
1). Pernyataan Mr. Moh Roem.

  • Mengeluarkan perintah kepada “Pengikut Republik yang bersenjata” untuk menghentikan perang gerilya.
  • Bekerja sama dalam hal copi paste mengembalikan perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan.
  • Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud untuk mempercepat “penyerahan” kedaulatan yang sungguh-sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat, dengan tidak bersyarat.

2). Pernyataan Dr. Van Royen
  • Menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta.
  • Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer copi paste dan pembebasan semua tahanan politik.
  • Tidak akan mendirikan atau mengakui negara-negara yang berada di daerahdaerah yang dikuasai RI sebelum tanggal 19 Desember 1948 dan tidak akan meluaskan negara atau daerah dengan merugikan Indonesia.
  • Menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
  • Berusaha dengan sungguh-sungguh agar Konferensi Meja Bundar segera diadakan setelah Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta.
8. Konferensi Inter - Indonesia

tempat: Yogyakarta 19 - 22 Juli 1949 dan pJakarta 31 Juli - 2 Agustus 1949.
tujuan: mempersiapkan Konferensi Meja Bundar.
pelaksana: wakil-wakil Republik Indonesia dengan BFO (Bijjenkomst voor Federaal Overleg) atau Pertemuan Permusyawarahan Federal.
keputusan: BFO menyokong tuntutan Republik Indonesia atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan-ikatan politik ataupun ekonomi.

9.  Konferensi Meja Bundar (KMB)

tempat: Den Haag (Belanda) 23 Agustus - 2 November 1949.
ketua: Perdana Menteri Belanda, Willem Drees.
wakil Indonesia: Drs. Moh. Hatta.
wakil Belanda: Van Maarseveen.
wakil BFO: Sultan Hamid II.
wakil UNCI (mediator): Chritchley.
hasil: ditandatangani 2 November 1949.
Isi:
  • Belanda mengakui kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir bulan Desember 1949.
  • Mengenai Irian Barat penyelesaiannya ditunda satu tahun setelah pengakuan copi paste kedaulatan.
  • Antara RIS dan kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia - Belanda yang akan diketuai Ratu Belanda.
  • Segera akan dilakukan penarikan mundur seluruh tentara Belanda.
  • Pembentukan Angkatan Perang RIS (APRIS) dengan TNI sebagai intinya.
tindak lanjut: tanggal 27 Desember 1949 diadakanlah penandatanganan pengakuan kedaulatan di negeri Belanda dan di Jakarta.
Pihak Belanda:  Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, dan Menteri Seberang Lautan Mr. AM . J.A Sassen. 
Pihak Indonesia: Drs. Moh. Hatta.
penandatanganan pengakuan kedaulatan di Jakarta.
Pihak Indonesia: Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Wakil Belanda: AH.J. Lovink.
Akhir: Indonesia menjadi negara serikat yakni Republik Indonesia Serikat (RIS).



sumber:
Sutarto; dkk. 2008. IPS SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

No comments:

Post a Comment