Friday, November 8, 2013

ORGANISASI BENTUKAN JEPANG PADA MASA PD II DI INDONESIA


Bidang Politik

MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia)

Jepang tetap mengijinkan berdirinya
organisasi MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang didirikan oleh K.H. Mas Mansur
dan kawan- kawan di Surabaya pada tahun 1937 pada jaman pemerintahan Hindia
Belanda. Organisasi ini diijinkan tetap berdiri dengan permintaan agar umat Islam
tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat politik.

Gerakan Tiga A

Nama gerakan
ini dijabarkan dari semboyan Jepang pada
waktu itu :”Nippon cahaya Asia, Nippon

pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia”.

Gerakan Tiga A ini dipimpin oleh
Mr. Samsuddin, seorang tokoh Parindra
Jawa Barat.

Gerakan Tiga
A tidak efektif sehingga pada bulan
Desember 1942 dibubarkan.

PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)

Untuk
mempropagandakan politik Hakko Ichiu,
Jepang membentuk Gerakan 3A (Gerakan
Tiga A) yang dipimpin Mr. Syamsudin.
Organisasi ini dibubarkan karena tidak
mendapat simpati rakyat dan kemudian
dibentuklah PUTERA (Pusat Tenaga
Rakyat) pada tanggal 1 Maret 1943.
Pemimpin PUTERA yang dikenal
dengan Empat Serangkai adalah
Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro,
dan K.H. Mas Mansyur.

Tujuan Jepang membentuk PUTERA adalah agar kaum nasionalis dan intelektual
menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan Jepang. Namun oleh
para pemimpin Indonesia, PUTERA justru dimanfaatkan untuk membela rakyat
dari kekejaman Jepang serta untuk menggembleng mental dan semangat
nasionalisme, cinta tanah air , anti kolonialisme dan imperialisme. Dengan demikian
PUTERA ini ibarat tombak bermata dua.
Organisasi PUTERA mendapat sambutan di kalangan rakyat dan melalui
organisasi ini mental bangsa Indonesia disiapkan untuk menuju bangsa yang merdeka.
Jepang memandang bahwa PUTERA lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia maka
pada bulan April 1944, PUTERA oleh Jepang dibubarkan.

Barisan Pelopor (Syuisyintai)

Setelah PUTERA dibubarkan maka
dibentuklah Jawa Hokokai (Perhimpunan
Kebaktian Rakyat Jawa). Salah satu
bagian Jawa Hokokai adalah Syuisyintai
(Barisan Pelopor) yang dipimpin Ir.
Soekarno dengan pemimpin Harian atau
Kepala Sekretariatnya adalah Sudiro.
Beberapa tokoh nasionalis lainnya
sebagai anggota pengurus antara lain
Chaerul Saleh, Asmara Hadi, Sukardjo
Wiryopranoto, Oto Iskandardinata dan
lain-lain.
Organisasi ini dimanfaatkan oleh para nasionalis sebagai penyalur aspirasi

nasionalisme dan memperkuat pertahanan pemuda melalui pidato-pidatonya.

Chuo Sangi In (Badan Penasihat Pusat)

Badan ini dibentuk pada tanggal 5 September 1943 atas
anjuran Jenderal Hideki Tojo (Perdana Menteri Jepang).
Ketuanya Ir. Soekarno, anggotanya berjumlah 23 orang Jepang
dan 20 orang Indonesia. Tugas badan ini adalah memberi
nasihat atau pertimbangan kepada Seiko Shikikan (penguasa
tertinggi militer Jepang di Indonesia).
Oleh para pemimpin Indonesia melalui Chuo Sangi In
dimanfaatkan untuk menggembleng kedisiplinan. Salah satu
saran Chuo Sangi In kepada Seiko Shikikan adalah agar
dibentuknya Barisan Pelopor untuk mempersatukan seluruh
penduduk agar secara bersama menggiatkan usaha mencapai

kemenangan.

Bidang Ekonomi

Romusha

Romusha adalah pahlawan pekerja yang dihormati atau
prajurit ekonomi. Mereka digambarkan sebagai orang yang sedang menunaikan tugas

sucinya untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya. Cara yang ditempuh untuk pengerahan tenaga Romusha ini dengan bujukan,
tetapi apabila tidak berhasil dengan cara paksa.

Sedangkan panitia pengerah Romusha disebut Romukyokai. Di samping rakyat,
bagi para pamong praja dan pegawai rendahan juga melakukan kerja bakti sukarela
yang disebut Kinrohoshi.

Tonarigumi

Untuk mengawasi penduduk atas terlaksananya gerakan-gerakan Jepang maka
dibentuklah tonarigumi (rukun tetangga) sampai ke pelosok pelosok pedesaan.
Dengan demikian sumber daya manusia rakyat Indonesia khususnya di Jawa
dimanfaatkan secara kejam untuk kepentingan Jepang. Akibat dari tekanan politik,
ekonomi, sosial maupun kultural ini menjadikan mental bangsa Indonesia mengalami
ketakutan dan kecemasan.

Bidang Semi Militer

Seinendan (Barisan Pemuda)

Seinendan merupakan organisasi
semi militer yang dibentuk secara resmi
tanggal 29 April 1943. Anggotanya
terdiri atas pemuda usia 14-22 tahun.
Mereka dilatih militer untuk mempertahankan
diri maupun penyerangan.
Tujuan pembentukan Seinendan
yang sebenarnya adalah agar Jepang
memperoleh tenaga cadangan untuk
memperkuat pasukannya dalam
Perang Asia Pasifik.

Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)

Keibodan merupakan organisasi semi militer yang dibentuk pada tanggal 29
April 1943. Anggotanya terdiri atas para pemuda usia 23 – 25 tahun. Tugas Keibodan
adalah sebagai pembantu polisi dalam yang bertugas antara lain menjaga lalu lintas,
pengamanan desa, sebagai mata-mata, dan lain-lain. Jadi keibodan ini selain untuk
memperkuat kewaspadaan dan disiplin masyarakat juga untuk politik pecah belah.
Keibodan mendapat pengawasan ketat dari tentara Jepang karena untuk menghindari
pengaruh dari kaum nasionalis dalam badan ini. Di seluruh pelosok tanah air sudah
dibentuk Keibodan walaupun namanya berbeda, antara lain di Sumatera disebut

Bogodan sedangkan di Kalimantan disebut Borneo Konen Hokukudan.

Fujinkai (Barisan Wanita)

Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas wanita yang
berumur 15 tahun ke atas. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan
dengan cara mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan
makanan untuk kepentingan perang.

Jawa Hokokai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa)

Jawa Hokokai diresmikan pada tanggal 1 Maret 1944. Jawa Hokokai merupakan
organisasi resmi pemerintah dan langsung di bawah pengawasan pejabat Jepang.
Pimpinan tertinggi dipegang oleh Guneseikan (Kepala / pemerintahan militer yang
dijabat kepala staf tentara).
Keanggotaan Jawa Hokokai adalah para pemuda yang berusia minimal 14 tahun.
Tugas Jawa Hokokai adalah menggerakkan rakyat guna mengumpulkan pajak, upeti,

dan hasil pertanian rakyat.

Syuisyintai (Barisan Pelopor)

Syuisyintai diresmikan pada tanggal 25 September 1944. Syuisyintai ini dipimpin
oleh Ir. Soekarno yang dibantu oleh Oto Iskandardinata, R.P. Suroso, dan Dr.
Buntaran Martoatmojo. Barisan pelopor memiliki kekuatan satu batalyon di tiap
kota atau kabupaten, menyiapkan pemuda-pemuda dewasa untuk gerakan
perlawanan rakyat. Latihan-latihannya ditekankan pada semangat kemiliteran.

Bidang Semi Militer

Heiho (Pembantu Prajurit Jepang)

Heiho merupakan organisasi militer resmi yang dibentuk pada bulan April 1945.
Anggotanya adalah para pemuda yang berusia 18 – 25 tahun. Heiho merupakan
barisan pembantu kesatuan angkatan perang dan dimasukkan sebagai bagian dari
ketentaraan Jepang. Heiho dijadikan sebagai tenaga kasar yang dibutuhkan dalam
peperangan misalnya memindahkan senjata dan peluru dari gudang ke atas truk,
serta pemeliharaan senjata lain-lain. Sampai berakhirnya masa pendudukan Jepang
jumlah anggota Heiho mencapai 42.000 orang. Prajurit Heiho juga dikirim ke luar
negeri untuk menghadapi pasukan Sekutu antara lain ke Malaya (Malaysia), Birma
(Myanmar), dan Kepulauan Salomon.

PETA (Pembela Tanah Air)

PETA dibentuk pada tanggal
3 Oktober 1944 atas usul Gotot Mangkupraja
kepada Letjend. Kumakici Harada
(Panglima Tentara ke-16). PETA di
Sumatera dikenal dengan Gyugun.
Pembentukan PETA ini berbeda
dengan organisasi lain bentukan Jepang.
Anggota PETA terdiri atas orang Indonesia
yang mendapat pendidikan militer Jepang.
PETA bertugas mempertahankan tanah air
Indonesia. PETA merupakan tentara garis
kedua. Di Jawa dibentuk 50 batalion PETA.
Jabatan komando batalion dipegang oleh
orang Indonesia tetapi setiap komandan
ada pelatih dan penasihat Jepang. Tokoh-tokoh PETA yang terkenal antara lain Supriyadi,
Jenderal Sudirman, Jenderal Gatot Subroto, dan Jenderal Ahmad Yani.


sumber:
Sutarto; Sunardi; dkk. 2008. IPS untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

1 comment: