Monday, November 11, 2013

Kecenderungan Lokasi Industri

Penentuan lokasi industri sebagaimana telah diuraikan sebelumnya memiliki beberapa alternatif atau kecenderungan yang didasarkan pada orientasi faktor-faktor produksi yang tersebar di berbagai lokasi. Faktor-faktor produksi dalam kegiatan industri, di antaranya dipengaruhi oleh:

  1. bahan baku,
  2. sumber energi,
  3. tenaga kerja,
  4. modal,
  5. transportasi, dan
  6. pasar.

Kecenderungan lokasi industri berdasarkan jenis industri dapat dikelompokkan sebagai berikut.

a. Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi bahan baku

Industri Semen
mengambil langsung bahan baku kapur untuk langsung diolah menjadi semen
foto: thomy265.wordpress.com

Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi bahan baku adalah industri yang membutuhkan bahan baku dalam jumlah yang cukup besar, bahan baku yang digunakan tidak rusak/utuh, dan bahan baku yang diolah banyak mengalami penyusutan sehingga meringankan biaya pengangkutan. Pertimbangan yang digunakan untuk menempatkan industri yang berorientasi pada bahan baku, di antaranya adalah:

  1. Industri yang mengolah bahan baku yang cepat rusak atau busuk, misalnya: industri daging, industri ikan, industri bunga, industri semen, dan industri susu.
  2. Industri yang mengolah bahan baku dalam jumlah besar atau barang curahan (bulk goods) dan biaya angkutannya cukup mahal, misalnya: industri kayu dan industri pengolahan minyak bumi. Industri kelompok ini memiliki perbandingan kehilangan berat (weight loss) mencapai 75% atau lebih.
  3. Memiliki ketersedian bahan mentah yang cukup besar.
  4. Biaya pengangkutan bahan mentah lebih mahal daripada biaya pengangkutan barang jadi.
  5. Volume produksi lebih kecil dari bahan mentah karena adanya penyusutan.


b. Industri yang cenderung ditempatkan di daerah pemasaran

Industri Makanan (Roti)
mendekati daerah pemasaran untuk menekan biaya angkut
foto: suarapengusaha.com

Industri yang cenderung ditempatkan di daerah pemasaran adalah industri yang biasanya tidak mengalami kesulitan dalam penggunaan bahan baku atau mudah diperoleh di daerah sekitarnya. Misalnya: industri perakitan, industri makanan, dan industri konveksi. Pertimbangan yang digunakan untuk menempatkan industri yang berorientasi pada daerah pemasaran, di antaranya adalah:

  1. Jika dalam pembuatan barang industri, perbandingan kehilangan (susut) berat mencapai nol persen, biaya angkut untuk barang jadi lebih mahal dari pada biaya angkut untuk barang mentah. Misalnya: industri roti karena setelah diolah beratnya tidak berbeda dengan bahan mentahnya.
  2. Jika bahan mentah/baku mudah diperoleh. Misalnya: industri air mineral, karena air bersih dianggap mudah diperoleh.
  3. Jika barang yang dihasilkan memerlukan ongkos tinggi karena ukurannya relatif lebih besar. Misalnya: industri peti kemas dan industri mebel.
  4. Jika barang yang dihasilkan selalu mengalami perubahan yang cepat karena kaitannya dengan model dan mode yang sedang berkembang. Misalnya industri konveksi.
  5. Jika biaya angkut barang jadi lebih mahal dari pada biaya angkut bahan mentah/baku.
  6. Jika produksi yang dihasilkan mudah rusak dan tidak tahan lama.
  7. Jika barang yang dihasilkan memerlukan pemasaran yang luas.
  8. Jika bahan baku yang digunakan tahan lama.


c. Industri yang cenderung ditempatkan di pusat-pusat konsentrasi penduduk

Industri Garmen
membutuhkan banyak pekerja untuk memproduksi pakaian
foto: voaindonesia.com

Industri yang cenderung ditempatkan di pusat-pusat konsentrasi penduduk, yaitu industri yang memerlukan tenaga kerja yang banyak. Industri ini bersifat padat karya, misalnya: industri elektronika dan garmen. Industri ini biasanya berlokasi di tempat pemusatan tenaga kerja, terutama tenaga kerja yang murah dan terampil. Adapun industri yang memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang khusus dalam jumlah yang banyak di antaranya industri kain batik dan industri kain bordir.

d. Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi sumber tenaga/energi

PLTU Paiton, Jawa Timur
membutuhkan batu bara sebagai sumber tenaga yang didistribusikan melalui jalur laut
foto: mursidchcb.wordpress.com

Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi sumber tenaga/energi adalah industri yang banyak memerlukan sumber tenaga (listrik, minyak bumi, batubara, gas, dan air). Misalnya: industri peleburan baja/besi, industri pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan industri pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

e. Industri yang cenderung ditempatkan dengan orientasi pada biaya pengangkutan

Industri Air Kemasan
dari mata air pegunungan terdekat dengan kota
foto: kabarbisnis.com

Industri yang cenderung ditempatkan dengan orientasi pada biaya pengangkutan adalah industri yang memerlukan sarana atau jaringan transportasi yang mudah dan baik, sehingga tidak mengganggu jalur pemasaran. Industri ini biasanya industri yang memerlukan bahan mentah, pengolahan, dan pemasaran
pada satu tempat yang sama. Misalnya: industri air kemasan atau air karbonasi.

f. Industri yang berorientasi pada modal

Industri Farmasi
kebanyakan berlokasi di kota-kota besar
foto: pharmacommunity.blogspot.com

Industri yang berorientasi pada modal adalah industri yang biasanya memiliki produksi yang besar dan sangat vital secara ekonomis, dan memiliki pasar yang luas serta strategis untuk menarik modal asing. Misalnya: industri farmasi dan alat-alat kesehatan.

g. Industri yang berorientasi pada teknologi

Industri Perhotelan
membutuhkan tenaga kerja yang ahli dibidangnya dalam melayanai pelanggan
foto: bisnis-jabar.com

Industri yang berorientasi pada teknologi adalah industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus dan terdidik, serta telah menerapkan teknologi adaptif. Misalnya: industri pertanian, industri perikanan, industri pariwisata, dan industri perhotelan.

h. Industri yang berorientasi pada peraturan dan perundang-undangan

Industri yang berorientasi pada peraturan dan perundang-undangan adalah industri yang memerlukan kemudahan dalam perizinan dan sistem perpajakan. Misalnya relokasi industri negara maju ke negara-negara berkembang umumnya sangat memperhatikan orientasi peraturan perizinan dan perpajakan. Jika
izin mereka agak dipersulit dan terlalu mahal pajaknya, maka negara maju tersebut tidak akan mendirikan industri di negara berkembang.

i. Industri yang berorientasi pada lingkungan

Industri yang berorientasi pada lingkungan adalah industri yang tidak merusak lingkungan, dengan cara menggunakan teknologi atau proses industri yang ramah lingkungan. Cirinya hemat bahan baku dan sumber energi, serta tidak mencemari lingkungan, tetapi memiliki nilai ekonomis yang tinggi.


sumber: Buku BSE
Waluya, Bagja. 2008. Memahami Geografi 3 SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. halaman 53-55


No comments:

Post a Comment