Monday, October 14, 2013

Bentuk-bentuk muka bumi pada peta dan diagram/penampang melintang


Bentuk muka bumi pada peta
Simbol peta yang baik adalah simbol yang dapat dikenali walaupun tanpa menggunakan legenda, mudah digambarkan, dan mudah dibedakan dengan simbol-simbol lain. Peta tentang bentuk muka bumi (peta relief) dapat disajikan dalam bentuk simbol titik, garis, dan area (polygon).
a.    Peta relief dengan simbol titik
Peta relief dengan simbol titik dapat digunakan untuk emnentukan lokasi seseuai dengan bentuk muka bumi dari wilayah yang dipetakan. Sebagai contoh, peta relief dengan simbol titik ketinggian.
b.    Peta relief dengan simbol garis
Peta relief dengan simbol garis dapat digunakan untuk menentukan ketinggian suatu wilayah dengan menarik garis suatu wilayah yang memiliki ketinggian yang sama. Peta relief yang menampilkan simbol garis disebut juga dengan peta kontur. Kontur adalah garis pata peta yang menghubungkan tempat-tempat berketinggian sama. Garis kontur tidak pernah berpotongan satau sama lain dan dibuat dengan selisih/interval ketinggian yang sama. Interval kontur dapat ditentukan dengan rumus: CI = 1/2000 x penyebut skala.
c.    Peta relief dengan simbol area
Peta relief dengan simbol area dapat digunakan untuk menentukan wilayah ketinggian yang berketinggian sama berdasarkan bentuk muka bumi yang dipetakan. Peta relief dengan simbol area ini umumnya dikenal dengan peta wilayah ketinggian.

Bentuk muka bumi pada diagram atau penampang melintang
Diagram atau penampang melintang adalah gabaran atau profil relief dari bentuk muka bumi, baik di daratan atau di dasar laut secara melintang yang diukur dari permukaan air laut. Diagram atau penampang melintang dapat menyjikan gambaran bentuk muka bumi yang menyerupai atau mendekati bentuk yang sesungguhnya di lapangan.
a.    Menggambarkan tingkat kemiringan bentuk muka bumi (kelerengan)
b.    Menggambarkan bentuk puncak atau lembah
c.    Menggambarkan tiga dimensi bentuk muka bumi
d.    Menggambarkan bentuk muka bumi di daratan dan lautan

Contoh pola-pola objek geografi menurut bentuk muka buminya

Geografi adalah ilmu yang mempelajari sebab akibat dari berbagai kenampakan, gejala, dan peristiwa yang terjadi di muka bumi, beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan dan pewilayahan.
Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk muka bumi dan proses terjadinya.
Pengertian ruang (space) dalam geografi adalah keseluruhan permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfer, yaitu sebagai tempat hidup manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Pengertian wilayah (region) dalam geografi adalah kesatuan alam yang seerba sama (homogen) dan memiliki ciri khas atau karakteristik khusu tertentu sehingga dapat dibedakan dengan wilayah yang lain.
Prinsip geografi digunakan sebagai dasar dalam menjelaskan gejala atau fenomena yang terjadi untuk dapat memahami karakteristik dan keterkaitannya dengan gejala atau fenomena lain.
a.    Prinsip interalasi: menghubungkan gejala yang terjadi di suatu tempat dengan tempat lain di suatu ruang yang sama.
b.    Prinsip deskripsi: memberikan penjelasan berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang jelas dan akurat dengan disertai gambar, tabel, grafik, peta maupun diagram.
c.    Prinsip penyebaran: menganalisis penyebaran suatu gejala atau fakta di permukaan bumi yang meliputi bentang alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia.
d.    Prinsip korologi: mengkaji secara ilmiah gejala-gejala yang dikaji berdasrkan fakta-fakta dan bukti-bukti melalui sebaran, interksi, atau interelasinya sehingga dapat diketahui karakteristk khusus dari gejala-gejala tersebut di dalam suatu ruang.

1.    Pola iklim (suhu dan tekanan udara)
Suhu atau temperatur udara adalah kondisi panas atau dinginnya udara di suatu tempat yang diukur dengan satuan derajat Celcius (°C). Tekanan udara adalah tenaga yang bekerja untuk mengerahkan massa udara tiap satuan luas tertentu. Tingkat suhu udara atau tekanan udara di suatu tempat dipengaruhi oleh relief permukaan bumi.
2.    Pola aliran sungai
Pola aliran sungai menurut arah aliran airnya, yaitu:
a.   Konsekuen: arah alirannya sejajar atau searah dengan kemiringan lereng
b.   Subsekuen: arah alirannya tegak lurus dengan kemiringan lereng atau tegak lurus dengan arah aliran sungai konsekuen
c.   Obsekuen: arah alirannnya berlawanan dengan kemiringan lereng
d.   Insekuen: arah alirannya tidak beraturan dan tidak mengikuti kemiringan lereng
e.   Resekuen: arah alirannya sejajar dengan aliran sungai konsekuen
 Karakteristik aliran sungai yang mengikuti bentang lahannya, yaitu:
a.   Radial: pola aliran yang menjauhi atau keluar dari dome/bukit/gunung dan menuju atau mendekati cekungan (depresi).
b.   Dendritik: pola aliran sungai berbentuk seperti akar pohon dan cabang-cabangnya.
c.   Trelis: pola aliran sungai yang merupakan hasil kombinasi dari sungai konsekuen, resekuen, dan obsekuen yang dapat dijumpai di daerah lipatan.
d.   Rectangular: pola aliran sungai yang mengikuti bentuk-bentuk patahan.
3.    Pola pemukiman menurut bentang alamnya
a.   Pola pemukiman memusat
Rumah-rumah penduduk mengumpul menjadi satu dengan tanah pertanian, perkebunan, peternakan atau pertambangan di sekitarnya.
b.   Pola pemukiman memanjang
Rumah-rumah penduduk memanjang atau mengikuti suatu bentang alam atau budaya, misalnya pantai, sungai, jalan, atau rel kereta.
c.   Pola pemukiman memencar
Rumah-rumah penduduk memencar atau memisah sendiri-sendiri.
4.    Pola penggunaan tanah

Pola penggunaan tanah di suatu wilayah dengan wilayah lainnya tidak selalu sama. Tanah sebagian besar dimanfaatkan manusia untuk melakukan kegiatannya, baik untu kepentigan sosial (perukiman, lapangan olahraga, taman, dsb) maupun untuk kegiatan ekonomi (sawah, perkebunan, perindustrian, dsb). Kegiatan manusia memanfaatkan tanah tersebut mengakibatkan terbentuknya pola penggunaan tanah.

sumber: Tim Abdi Guru. 2007. IPS Terpadu untuk SMP Kelas IX Semester 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

No comments:

Post a Comment