Tuesday, May 7, 2013

PENGINDERAAN JAUH: JENIS-JENIS SATELIT PENGINDERAAN JAUH

1. SATELIT SUMBER DAYA ALAM
  • Landsat (Land Resources Satelite), USA
  • Luna, Rusia
  • ERS (Earth Resources Satelite), Uni Eropa
2. SATELIT CUACA
  • Tiros (Thermal Infrared Obsevation Satelite), USA
  • NOAA (Tiros-N Advance Satelite), USA
  • Skylab, USA
  • Meteor, Rusia
  • Meteosat, Uni Eropa
  • GOES, USA
  • Himawari, Jepang
  • ATS, Jepang
3. SATELIT OBSERVASI SAMUDERA
  • Zeasat, USA
  • MOS (Marine Obsrvation Satelite), Jepang
  • SPOT (System Probotyre de Observation De la Terra), Prancis
  • Marinesat, USA
4. SATELIT TELEKOMUNIKASI
  • ECHO 1, USA
  • Palapa A1, milik Indonesia diorbitkan oleh USA
  • Garuda 1, milik Indonesia diorbitkan oleh Rusia
  • Telkom 1, milik Indonesia diorbitkan oleh Uni Eropa
5.  SATELIT MILITER
  • SAS (Satelite Areal Survei), USA
  • COSMOS, Rusia
  • Close Lock, USA
  • Big Bird, USA
  • Bhaskara, India
  • China sat 1, RRC
 6. SATELIT OBSERVASI PLANET
  • Viking, USA
  • Ranger, USA
  • Vinera, Rusia
  • Ruma, Rusia
Daftar Satelit Komunikasi Milik Indonesia yang telah atau akan diluncurkan.
 

No. Nama
Mulai Operasi
Pengelola
Wahana
Keterangan
 

1. Palapa A1
8 Juli 1976
Perumtel
Delta-2914 Hughes (HS-333)
Diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat.

2. Palapa A2

10 Maret 1977
Perumtel
Delta-2914 Hughes (HS-333)
Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
 

3. Palapa B1
18 Juni 1983
Perumtel
Challenger F2 (STS-7) Hughes (HS-376)
Diluncurkan menggunakan pesawat ulang-alik.
 

4. Palapa B2
3 Februari 1984
Perumtel

Challenger F4 (STS-41-B) Hughes (HS-376)
gagal dan dijemput oleh STS-51A pada November 1984
 

5. Palapa B2P
21 Maret 1987
Perumtel
Satelindo Delta 6925 Hughes (HS-376)

Beralih kepemilikan ke Satelindo pada 1993 dan diganti Palapa C1

6. Palapa B2R

13 April 1990 
Perumtel Delta 6925 Hughes (HS-376) 
Merupakan Palapa B2 yang diperbaiki oleh Sattel Technologies.

7. Palapa B4

14 Mei 1992 
Telkom
Delta II-7925 Hughes (HS-376)
Diluncurkan dari Kennedy Space Center.

8. Palapa C1

31 Januari 1996 
Satelindo
Atlas-2AS Hughes (HS-601)
Diluncurkan dari Tanjung Canaveral LC-36B
Gagal beroperasi sehingga pada Januari 1999 beralih kepemilikan ke Hughes dan berganti nama menjadi HGS3.
Desember 2000 disewa Kalitel dari AS dan menjadi Anatolia 1, Agustus 2002 disewa Pakistan menjadi Paksat1.


9. Palapa C2

15 Mei 1996 2011
Satelindo dan Indosat
Ariane-44L H10-3 Hughes (HS-601)
Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.
Orbit akan dipindahkan ke 150,5° BT karena 113° BT akan ditempati Palapa D


10. Indostar I (Cakrawarta I)

12 November 1997 
Indovision
Ariane-44L H10-3[10] CTA -> Orbital Sciences Corporation (OSC)
(Star-1)

Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
 

11. Telkom-1
12 Agustus 1999,
Telkom Ariane IV

Lockheed Martin (A2100A)[2]
 

12. Garuda-1
12 Februari 2000
Asia Cellular Satellite (ACeS)
Proton K Blok-DM3 Lockheed Martin
A2100AXX[13] ACeS adalah patungan PSN dan perusahaan asing.
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
 

13. Telkom-2
16 November 2005
Telkom
Ariane V Orbital (Starbus 2)
Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
 

14. INASAT-1 2006 Satelit pertama buatan Indonesia.
 

15. LAPAN-TUBSAT 2007 Satelit mikro pertama Indonesia.
 

16. Indostar II (Cakrawarta II)
16 Mei 2009
Indovision
Proton-M Briz-M Boeing (BSS-601HP)
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome (LC-200/39), Kazakhstan.

17. Palapa D

31 Agustus 2009 
Indosat
Long March 3B Thales Alenia Space
(Spacebus-4000B3)

Diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC), Cina.
Menggeser orbit Palapa C2 dari 113° BT ke 150,5° BT.
 

18. Telkom-3 
2011
Telkom
Proton-M Briz-M ISS Reshetnev (Ekspress-1000N) & Alcatel (Payload)
Proses tender selesai pada Desember 2008.


INASAT Satelit Pertama Buatan Anak Indonesia

INASAT-1 adalah Nano Hexagonal Satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN.
Selain itu INASAT-1 adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit.

www.tobyman.nl
Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1).

Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.\

Skenario operasi
Inasat1-test-vakum ]www.inasat.lapanrb.org
Satelit yang lama pengembangannya sekitar sepuluh bulan, sejak Februari hingga November 2003, mempunyai dua skenario operasi.

Pertama, satelit akan mengirimkan datanya ketika berada di atas Indonesia.

Kedua, ketika di luar Indonesia, satelit hanya akan mengumpulkan data tanpa mengirimkannya data ke bumi.

Pengaturan skenario itu akan dilakukan secara otomatis melalui program On Board Computer (OBC) berdasarkan data bujur dan lintang yang dihitung dan diprediksi secara otomatis oleh (OBC) atau Flight Processor dari satelit.

Kestabilan gerak dari satelit ini didefinisikan sebagai stabilisasi pasif dengan basis pada pengendalian model grafity gradient, dengan batasan ini akan dibuat skenario gerak dengan mengambil mode gerak sistem dumbell serta mengusahakan CoG (Center of Grafity) berada pada tengah sisi vertikal dari bentuk satelit.
Saat pembuatan struktur satelit hexagonal INASAT-1

Dengan asumsi peluncur PSLV dengan segala konsekuensi sistem separasinya, diprediksi tidak terjadi gerak spin. Resiko yang diambil adalah kemungkinan adanya up down stability, sehingga masalah lay-out dari mass properties menjadi satu-satunya cara agar kestabilan ini dapat tercapai. INASAT-1 merupakan proyek yang menghabiskan biaya Rp 725 juta. Satelit yang menggunakan saluran komunikasi VHF/UHF ini diperkirakan sanggup mengorbit selama 6 hingga 12 bulan.



LAPAN-TUBSAT Satelit Mikro Pertama Indonesia
Citra bulan penuh dari Lapan Tubsat 09 februari 2012
LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universit├Ąt Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.


LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.

Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah.

Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir.

Fasilitas store dan forwardnya dapat digunakan untuk misi komunikasi dari daerah rural yang cukup banyak di Indonesia, selain untuk misi komunikasi data bergerak.

Karena catu dayanya terbatas (5 buah baterai NiH2 berkapasitas 12 Ah), satelit dilengkapi mode operasi hibernasi. Saat mode itu diaktifkan, hanya komponen data handling, unit telecommand dan telemetri yang tetap beroperasi untuk memastikan perintah tetap dapat diterima dari stasiun bumi.


Proyek satelit mikro ini disetujui pada tahun 2003 dan awalnya direncanakan akan diluncurkan pada Oktober 2005, namun peluncurannya ditunda akibat muatan utama roket Carthosat-2 yang akan membawa LAPAN-TUBSAT — LAPAN-TUBSAT adalah salah satu dari empat muatan roket tersebut — masih belum selesai disempurnakan. LAPAN-TUBSAT akhirnya berhasil diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di India.



Rujukane:
Bambang Hermanto. 2012. Super Trik Geografi SMA. Jogjakarta: Pustaka Widyatama.
http://www.kaskus.co.id/thread/5187ed577e1243340100000a/inasat-satelit-pertama-buatan-anak-indonesia/
http://www.lapanrb.org

No comments:

Post a Comment